<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> 
  <rss version="2.0"><channel> 
				<title>RSS PJMInews.com - Persaudaraan Jurnalis Islam Indonesia</title> 
				<description>Persaudaraan Jurnalis Islam Indonesia</description>
				<link>https://pjminews.com</link> 
				<language>id-id</language><item>
						                <title>RAW BLUE Selami Pikiran Demi Pencarian Jati Diri di EP Perdana Numb To Everything</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/raw-blue-selami-pikiran-demi-pencarian-jati-diri-di-ep-perdana-numb-to-everything</link>
						                <description>Hadir sebagai band baru dengan wajah-wajah familiar, RAW BLUE dengan percaya diri menyajikan sound shoegaze yang diinfus dengan elemen alternative rock dan slowcore dengan EP Numb To Everything yang rilis Jumat, 21 Agustus 2026 ini. Terdiri dari anggota-anggota No Excuse, Twisted Games, Frack, Walk Fearless, Cold Skin, The Brandals, dan Expect, Raw Blue diawaki oleh Kornelius Kevin, Chaidir Fadli Rahman, Ghani Noorputrawan, Herbert Widodo. Berawal sebagai playground untuk ide-ide yang tidak menemukan kecocokan di band-band asal para anggotanya, Raw Blue menyibak belantara baru yang tersusun oleh kompleksitas tekstur, yang memberi ruang untuk gaung dan gema, serta bergerak mengikuti melodi sebagai haluan. RAW Blue tidak hadir sebagai kendaraan untuk serta merta meninggalkan masa lalu tapi membuka jendela-jendela baru dari sisi-sisi pribadi para anggotanya yang sudah ada semenjak awal.
 

EP Numb to Everything dibangun dari empat lagu yang menangkap kegemaran mereka bermain gitar bernuansa dreamy, penulisan lagu yang melankolis di atas aransemen musik yang bersahaja. EP ini merefleksikan keresahan yang mereka rasakan, terutama mengenai kepercayaan diri dan sudut pandang seseorang ketika berhadapan dengan dirinya sendiri. Meski bukan tema baru atau tabu untuk dibicarakan, keseluruhan debut EP ini tidak menghadirkan kisah percintaan dua sejoli, melainkan berfokus pada perspektif seseorang yang sedang berdialog dengan dirinya sendiri. Sebuah perjalanan pencarian jati diri.

Proses produksi rekaman dimulai sekitar April 2026 setelah tahap kreatif yang telah berlangsung beberapa bulan sebelumnya. Proses mixing dan mastering kemudian dirampungkan pada akhir Juni 2026. Dalam pengerjaannya, materi mengalami beberapa kali bongkar-pasang aransemen serta rekaman ulang instrumen untuk menyesuaikan referensi dan baseline sound yang diinginkan, termasuk karakter yang ingin dibangun pada masing-masing lagu.

EP Numb To Everything diproduksi oleh RAW BLUE, dengan proses rekaman drum dan gitar berlangsung di Plug Studio bersama engineer Deya, sementara vokal dan bass direkam di Invasion Studio oleh engineer Praditya Eka Putra. Proses mixing dan mastering juga dikerjakan di Invasion Studio oleh Praditya Eka Putra. Seluruh lirik dan komposisi lagu ditulis oleh Kornelius Kevin. Untuk aspek visual, tim desain ditangani oleh Ghani Noorputrawan, dengan cover photo oleh Alvin Pahrul Prianto dan band photo oleh Fickry Yusuf Kamarullah.

Setelah perilisan EP, RAW BLUE akan mengeksplorasi berbagai panggung dan venue sembari meneruskan proses kreatif untuk persiapan materi baru yang format rilisannya masih tentatif. RAW BLUE merilis EP Numb To Everything melalui Haum Entertainment, label rekaman asal Malang yang berfokus pada musik emo, shoegaze, dan alternative. Kolaborasi ini terjalin secara alami melalui hubungan dan kerja sama sebelumnya antara Kevin dan pendiri label yang telah saling kenal lama. Debut EP Raw Blue, Numb To Everything hadir di semua DSP pada 21 Agustus 2026. - (Alfan for Haum)
</description>
					                </item><item>
						                <title>Arla Foods Ingredients mengurangi emisi gas melalui investasi yang signifikan di Videbæk</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/arla-foods-ingredients-mengurangi-emisi-gas-melalui-investasi-yang-signifikan-di-videbæk</link>
						                <description>VIDEBÆK, Denmark, Aug. 20, 2026 ( GLOBE NEWSWIRE) -- Arla Foods Ingredients mengambil langkah besar dalam mengurangi emisi CO2 pada tingkat pengolahan produk susu. Investasi senilai 8 juta euro yang baru saja rampung untuk pembangunan sistem pemanas baru di Production Tower 4, pabrik Danmark Protein di Videbæk, diperkirakan dapat mengurangi emisi CO2 sebesar 2.500 ton per tahun. Pengurangan tersebut setara dengan konsumsi energi tahunan untuk pemanasan di lebih dari 900 rumah tangga yang menggunakan gas alam.

Sebagai bagian dari proyek tersebut, sistem pemanas di Tower ini diubah dari pemanas berbahan bakar gas menjadi sistem yang dapat beralih antara panas dari sistem uap yang telah tersedia di pabrik tersebut dan pemanas listrik baru. Hal ini akan mengurangi penggunaan gas alam sekaligus memungkinkan listrik dari sumber terbarukan digunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan operasional. Perhitungan menunjukkan bahwa Tower 4 dapat beroperasi 100% menggunakan listrik dari sumber terbarukan selama 23% dari total waktu operasionalnya.

“Investasi ini akan meningkatkan keandalan operasional, memperkuat kepastian pasokan, serta membantu mengurangi dampak kami terhadap iklim.” ujar Mogens Bøgh Pedersen, Direktur pabrik Danmark Protein.

Elektrifikasi secara signifikan mengurangi emisi CO2

Kemampuan untuk beralih antara uap dan listrik memungkinkan Arla Foods Ingredients memanfaatkan listrik saat produksi energi angin dan surya menekan harga, serta mengurangi konsumsi ketika harga meningkat. Pendekatan ini mendukung konsumsi yang lebih fleksibel di jaringan listrik Denmark sekaligus memperkuat kelayakan investasi dari sisi bisnis.

Solusi baru ini merupakan bagian penting dari strategi Arla untuk melakukan elektrifikasi produksi serta memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam konsumsi energi, keandalan yang lebih baik, dan peluang pengembangan di masa depan.

Sistem pemanas baru di Tower 4 kini sudah beroperasi, sedangkan proyek serupa tengah direncanakan untuk Tower 5. Secara keseluruhan, investasi di Tower 4 dan Tower 5 diperkirakan dapat mengurangi emisi CO2 hingga 5.200 ton per tahun. Pengurangan tersebut setara dengan konsumsi energi tahunan untuk pemanasan di lebih dari 1.900 rumah tangga.

“Selain menghasilkan pengurangan emisi CO2e yang signifikan, investasi ini juga sangat layak dari sisi bisnis. Kami juga akan berupaya memperluas penerapan solusi ini ke fasilitas lainnya,” ujar Paul van Rooij, Wakil Presiden, Rantai Pasok, Arla Foods Ingredients.

Fakta tentang investasi


	Investasi untuk sistem pemanas baru di Tower 4: sekitar EUR 8,3 juta
	Pengurangan emisi CO2 tahunan (Tower 4): sekitar 2.500 ton
	Total potensi pengurangan (Tower 4 + 5): hingga 5.200 ton CO2
	Berdasarkan standar Badan Energi Denmark, 2.500 ton CO2 setara dengan konsumsi energi tahunan untuk pemanasan di 919 rumah tangga, sedangkan 5.200 ton setara dengan konsumsi di 1.911 rumah tangga.

</description>
					                </item><item>
						                <title>Asia Pasifik Mengalami Peningkatan Kualitas Tata Kelola Terbesar di Dunia, Menurut Temuan Chandler I</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/asia-pasifik-mengalami-peningkatan-kualitas-tata-kelola-terbesar-di-dunia-menurut-temuan-chandler-in</link>
						                <description>BANGKOK, Aug. 19, 2026 (GLOBE NEWSWIRE) -- Asia Pasifik menjadi kawasan dengan peningkatan tata kelola paling kuat dalam Chandler Good Government Index 2026 (CGGI) terbaru. Sebanyak 79% pemerintahan di kawasan ini mencatat skor lebih tinggi tahun ini, sedangkan Singapura mempertahankan posisi puncak dunia untuk tahun keempat secara berturut-turut.

Kini memasuki tahun keenamnya, CGGI mengukur kapabilitas dan efektivitas 133 pemerintahan di seluruh dunia berdasarkan tujuh pilar: Kepemimpinan & Pandangan ke Depan, Hukum & Kebijakan yang Kokoh, Institusi yang Kuat, Pengelolaan Keuangan, Marketplace yang Menarik, Pengaruh & Reputasi Global, serta Upaya Mendorong Kemajuan Masyarakat.

Temuan tersebut disampaikan oleh Dinesh Naidu, Direktur (Bidang Pengetahuan) di Chandler Governance Group (CGG), dalam sesi bersama bertajuk “Tata Kelola yang Siap Menghadapi Masa Depan di Asia dan Pasifik.” Sesi tersebut merupakan bagian dari program OECD-UNDP-OPDC “Transformasi Layanan Publik di Thailand” yang berlangsung di Bangkok. Sesi tersebut juga memperkenalkan Future-Ready Governance Index (FRGI), alat tolok ukur baru yang tengah dikembangkan bersama oleh United Nations Development Programme (UNDP) dan CGG. Indeks ini dirancang untuk membantu pemerintah di kawasan Asia Pasifik menghadapi era yang ditandai oleh ketidakpastian, transformasi struktural, dan kompleksitas yang terus meningkat.

“Kemajuan Asia Pasifik tahun ini menunjukkan bahwa investasi berkelanjutan dalam penguatan institusi dan pelayanan publik membuahkan hasil, bahkan di tengah kondisi global yang berat. Hal yang menarik adalah kemajuan yang terjadi di berbagai aspek. Kawasan ini mencatat kemajuan pada enam dari tujuh pilar Indeks sejak tahun 2021. Hal ini menunjukkan adanya upaya yang terarah dan berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas pemerintahan di bidang-bidang yang paling berdampak bagi masyarakat,” kata Naidu.

Indeks menunjukkan kemajuan tata kelola terjadi di banyak negara, meski tingkatnya berbeda-beda
Sebanyak 19 negara Asia Pasifik yang masuk dalam CGGI dan mencakup lebih dari separuh penduduk dunia mencatat kenaikan rata-rata skor keseluruhan terbesar dibandingkan kawasan lain sejak tahun 2021. Kawasan ini juga memiliki lima negara yang masuk dalam 20 besar dunia, dengan total 11 negara Asia Pasifik berada di separuh teratas peringkat Indeks. Singapura (1), Australia (11), Selandia Baru (13), Korea Selatan (16), dan Jepang (17) menjadi lima negara dengan kinerja terbaik di kawasan Asia Pasifik. Peningkatan paling signifikan tercatat pada pilar Institusi yang Kuat dan Upaya Mendorong Kemajuan Masyarakat.

Thailand menempati peringkat ke-58 dunia dan berada di separuh teratas Indeks. Posisi ini ditopang oleh pilar Pengelolaan Keuangan, yang menempatkan Thailand di peringkat ke-18 dunia, jauh lebih tinggi daripada posisi keseluruhannya. Pengelolaan Keuangan masih menjadi tantangan yang terus dihadapi kawasan Asia Pasifik. Sejak tahun 2021, hanya Mongolia, Vietnam, dan Jepang yang mencatat peningkatan skor pada pilar ini, yang menunjukkan semakin besarnya tantangan dalam menerapkan konsolidasi fiskal dan disiplin belanja.

Kemajuan di kawasan ini belum merata. Seluruh negara Asia Timur yang tercakup dalam Indeks yaitu Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Mongolia berhasil meningkatkan skor keseluruhan mereka sejak tahun 2021. Sejak Indeks ini pertama kali diperkenalkan, Vietnam menjadi negara dengan kenaikan skor keseluruhan tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Oseania mencatat kinerja terbaik di kawasan Asia Pasifik, dengan Australia dan Selandia Baru sama-sama masuk dalam 20 besar dunia. Asia Selatan menunjukkan tren yang lebih beragam. Sejak 2021, hanya Nepal yang mencatat peningkatan skor keseluruhan. Meski demikian, hasil tahunan terbaru India menunjukkan perbaikan, terutama pada pilar Pengelolaan Keuangan dan Upaya Mendorong Kemajuan Masyarakat.

Alat praktis bagi pemerintah
Dirancang oleh praktisi untuk praktisi, CGGI menjadi alat diagnostik yang membantu pemerintah membandingkan kinerja dan mengidentifikasi bidang yang memerlukan pengembangan kapabilitas, dengan mengacu pada bukti dari negara-negara pembanding di kawasan maupun di seluruh dunia.

“Pemerintah di kawasan Asia Pasifik telah menunjukkan kemampuan untuk terus berbenah, sedangkan CGGI menyediakan dasar bukti untuk mengidentifikasi kapabilitas mendasar yang perlu diperkuat. Berangkat dari hal tersebut, Future-Ready Governance Index yang tengah dikembangkan bersama oleh CGG dan UNDP dirancang untuk membantu pemerintah membangun kapabilitas yang dibutuhkan untuk mengantisipasi tantangan ke depannya,” kata Naidu.

Indeks lengkap 2026, termasuk profil setiap negara, skor pilar, serta perbandingan historis, dapat diakses di https://chandlergovernmentindex.com/
</description>
					                </item><item>
						                <title>12B SPORTS dan VR46 Racing Team Ajak Sung Kang Mengenal Lebih Dekat Dunia MotoGP</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/12b-sports-dan-vr46-racing-team-ajak-sung-kang-mengenal-lebih-dekat-dunia-motogp</link>
						                <description>TAVULLIA, Italia, Aug. 19, 2026 (GLOBE NEWSWIRE) -- 12B SPORTS, Sponsor Utama Pertamina Enduro VR46 Racing Team, mengajak aktor Hollywood Sung Kang mengunjungi Tavullia, sebuah kota kecil di perbukitan Italia yang menjadi tempat lahirnya tim sekaligus rumah bagi budaya yang terus menjadi bagian penting dari identitasnya. Sebagai tamu dari kedua brand, Sung Kang mendapat kesempatan untuk melihat lebih dekat dunia di balik karakter khas MotoGP.

Kunjungan Sung Kang dimulai dengan perjalanan melintasi perbukitan di sekitar Tavullia, melewati rambu batas kecepatan 46 km/jam yang ikonik, sebelum akhirnya tiba di markas VR46. Di sana, ia mengunjungi area garasi, bertemu dengan para engineer dan teknisi yang mempersiapkan motor Ducati milik tim, serta menikmati makan siang bersama pembalap Fabio Di Giannantonio dan Franco Morbidelli di Bar Pizzeria da Rossi.

Apa yang ia temukan bukan sekadar sebuah tim balap yang berlaga di panggung dunia, melainkan sebuah keluarga yang bergerak dalam satu ritme dan semangat yang sama.

Alessio Salucci, Team Director Pertamina Enduro VR46 Racing Team, mengatakan: “Tavullia adalah tempat semuanya bermula bagi tim ini, dan membuka pintu kami adalah cara paling autentik untuk menunjukkan seperti apa VR46 Racing Team sebenarnya. Bersama 12B SPORTS, kami ingin para penggemar di seluruh dunia mengenal orang-orang di balik setiap pencapaian.”

Rory Anderson, juru bicara 12B SPORTS, mengatakan: “Passion memiliki kekuatan untuk membuat orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal terasa seperti sudah berteman sejak lama. Semangat inilah yang kami bagikan bersama Pertamina Enduro VR46 Racing Team, sekaligus menjadi alasan kami ingin membawa kisah ini lebih dekat kepada para penggemar.”

MotoGP tidak hanya dibentuk oleh persaingan di lintasan, tetapi juga oleh komunitas yang tumbuh di sekitarnya. Dari sebuah kota kecil di Italia hingga grid Kejuaraan Dunia MotoGP 2026, 12B SPORTS dan VR46 Racing Team terus membawa para penggemar lebih dekat dengan orang-orang, tempat, dan tradisi yang menjadi bagian penting dari olahraga ini. - (rd/pp)
</description>
					                </item><item>
						                <title>Menuju Sistem Kesehatan Manusiawi: Dari Nirempati ke Keadilan Hakiki</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/menuju-sistem-kesehatan-manusiawi-dari-nirempati-ke-keadilan-hakiki</link>
						                <description>Oleh: Bella Lutfiyya
Karyawan Swasta/Aktivis Muslimah

JAGAT - Media sosial diramaikan dengan sebuah unggahan dari seorang pasien BPJS bernama Yurizal yang sempat mengeluhkan lambatnya pelayanan dari sebuah rumah sakit tempatnya berobat. Diketahui, Yurizal sudah menunggu selama 8 jam untuk mendapatkan ruang rawat inap. Beragam tanggapan pun banyak memenuhi unggahan tersebut, termasuk dari kalangan tenaga kesahatan, seperti dokter dan perawat.

Sangat disayangkan, unggahan Yurizal tersebut justru ditanggapi dengan komentar yang tidak pantas dan nirempati. Terlebih, banyak ulasan yang terkesan merendahkan dan menyepelekan keluhan Yurizal berasal dari kalangan nakes. Hal ini akhirnya memancing amarah netizen, apalagi kabar bahwa Yurizal telah meninggal semakin membuat netizen naik pitam. Mereka meminta para nakes untuk diberhentikan dan dikenakan sanksi sosial.

Kasus ini memiliki akar permasalahan yang kompleks. Dari segi sikap para nakes terhadap pasien yang nirempati menunjukkan cacatnya kepribadian individu. Tak ayal, banyak kasus perundungan di kalangan nakes yang berujung pada kematian. Bukti telah terpampang nyata pada kasus di atas melalui komentar yang ditulis dalam unggahan di media sosial.

Kepribadian yang cacat dan nirempati lahir dari pola pikir dan pola sikap yang tidak islami. Hal ini menunjukkan gagalnya sistem pendidikan dalam membentuk karakter yang berkepribadian Islam. Sistem yang hanya berfokus pada capaian akademik dan reputasi semata, namun melupakan pembentukkan karakter bagi setiap anak didik & tenaga didik akhirnya melahirkan pribadi yang mudah merendahkan orang lain

Dari segi pelayanan, pihak rumah sakit sangat lalai terhadap kebutuhan pasien. Waktu tunggu 8 jam bukanlah waktu yang sebentar dengan kondisi pasien yang kita tidak bisa rasakan perjuangannya saat menahan rasa sakit dalam jangka waktu tersebut. Hal ini membuktikan sistem kesehatan yang rusak dan kurang sigap.

Dua hal tersebut tak lepas dari peran negara dalam menjamin kesehatan rakyatnya yang tidak ditemukan dalam sistem saat ini. Jaminan kesehatan yang seharusnya ditanggung negara secara merata, dalam sistem sekuler kapitalis, justru dibebankan pada pasien. Fasilitas dan kecepatan pelayanan kesehatan tergantung pada kemampuan bayar setiap pasien (objek bisnis). 

Dalam Sistem Islam, atribut kesehatan, mulai dari fasilitas yang memadai, pemberdayaan tenaga kesehatan yang cerdas dan berakhlak merata di seluruh wilayah, akses menuju akses kesehatan yang memudahkan umat, hingga pembiayaan yang ditanggung oleh negara dengan sumber dana yang terpenuhi dari Baitul Ma’al. Hal ini karena kesehatan merupakan hak dasar umat yang harus dikelola dan dipenuhi oleh negara.

Kapitalisasi sistem kesehatan saat ini jelas merugikan rakyat, karena harus menanggung sendiri biaya penanganan kesehatan. Belum lagi kondisi-kondisi yang masih minus dari segi akses kesehatan di daerah hingga nakes yang kurang berakhlak.

Pelayanan kesehatan dalam masa Kekhilafahan bisa menjadi contoh yang patut diterapkan. Pertama, pembudayaan hidup sehat. “Lebih baik mencegah daripada mengobati” seringkali kita dengar bukan? Hidup sehat dimulai dari kebiasaan yang baik. Sosialisasi hidup sehat dibekali kepada seluruh kalangan masyarakat tanpa kecuali.

Kedua, memajukan ilmu dan teknologi kesehatan. Mendukung dan memfasilitasi para tenaga kesehatan untuk belajar dan meneliti hal baru adalah investasi yang sangat baik untuk jangka panjang. Dari hal tersebut, bukan tidak mungkin akan ada banyak penemuan metode pengobatan baru yang dapat mempermudah proses penangan kesehatan.

Ketiga, penyediaan infrastruktur dan fasilitas kesehatan yang memadai. Pada Zaman Pertengahan, hampir semua kota besar Khilafah memiliki rumah sakit, misalnya Rumah Sakit Qalaqun di Kairo yang dapat menampung hingga 8.000 pasien. Tidak hanya memfasilitasi tindak kesehatan, namun juga berfungsi sebagai tempat riset dan universitas. Tentunya, tanpa membatasi siapapun yang bisa mendapat fasilitasnya.

Di tengah sistem yang bobrok, kita masih berharap tidak ada kejadian serupa yang akan terulang kembali. Adanya kejadian ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran umat dan negara untuk berbenah menguliti setiap inci kesalahan, kelalaian, dan keacuhan yang ada. Saatnya kembali pada sistem yang memiliki segudang keadilan dan solusi solutif yang berasal dari Allah SWT. (*)
</description>
					                </item><item>
						                <title>Erros Djarot Membuka Kembali Lembaran Hidup: Nostalgia, Persahabatan, Musik, dan Catatan Zaman</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/erros-djarot-membuka-kembali-lembaran-hidup-nostalgia-persahabatan-musik-dan-catatan-zaman</link>
						                <description>JAKARTA – Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Pasar Baru, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026), menjadi saksi sebuah pertemuan antara kenangan, persahabatan, musik, dan perjalanan panjang seorang anak zaman.

Di tempat itu, Erros Djarot meluncurkan sekaligus membedah Autobiografi Jilid 2 dan 3, melanjutkan catatan perjalanan hidup yang sebelumnya telah dituangkan dalam Jilid 1 dan buku Erros Djarot: Apa Kata Sahabat pada Oktober 2025.

Namun, acara tersebut terasa jauh lebih dari sekadar peluncuran buku.

Sejumlah tokoh nasional hadir dan membawa kisah serta kenangan masing-masing tentang Erros Djarot. Megawati Soekarnoputri hadir langsung dan memberikan testimoni mengenai hubungan persahabatan serta perjalanan yang pernah dilalui bersama Erros.

Hadir pula mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, aktris Christine Hakim, serta keluarga besar Bung Karno.

Beragamnya latar belakang para tamu tersebut seolah menggambarkan perjalanan hidup Erros yang memang tidak pernah berada hanya di satu ruang. Ia bergerak dari musik dan film ke kebudayaan, dari pergaulan seniman ke dunia politik, serta dari ruang kreativitas menuju berbagai pergulatan pemikiran tentang Indonesia.

Ketika Masa Lalu Kembali Hadir

Autobiografi bagi Erros Djarot tampaknya bukan sekadar upaya mengingat masa lalu.

Ia membuka kembali berbagai fase kehidupan yang pernah dilalui, termasuk perjumpaan dengan orang-orang yang memberikan warna dalam perjalanan hidupnya.

Di antara pesan yang kuat dari pemikiran Erros adalah keberanian untuk mengatakan kebenaran, meskipun terkadang kebenaran tersebut tidak nyaman untuk didengar.

"Sampaikan kebenaran itu walau menyakitkan. Sebelum kebenaran yang kau sembunyikan menggerogoti pikiran dan batinmu selamanya.”

Kalimat tersebut menjadi semacam refleksi atas keberanian seseorang untuk meninggalkan kesaksian mengenai perjalanan hidupnya.

Sebab ketika seseorang menulis autobiografi, ia tidak hanya sedang bercerita tentang dirinya. Ia juga sedang meninggalkan perspektif mengenai zaman yang pernah dilaluinya.

Membaca Erros dari Berbagai Perspektif

Suasana semakin menarik ketika acara memasuki sesi bedah buku.

Wartawan senior Bambang Harymurti memandu diskusi yang menghadirkan mantan Menteri BUMN Laksamana Sukardi, mantan Kapolri Jenderal (Purn) Suroyo Bimantoro, dan cendekiawan Haidar Bagir.

Tiga latar belakang yang berbeda tersebut memberikan cara pandang yang beragam terhadap sosok Erros Djarot.

Erros tidak hanya dibaca sebagai seniman atau musisi, tetapi juga sebagai pribadi yang hidup di tengah berbagai perubahan sosial dan politik Indonesia.

Pengalaman, persahabatan, pilihan sikap, serta pemikirannya menjadi bagian dari cerita besar yang ikut membentuk perjalanan Indonesia pada masanya.

Bedah buku pun berkembang menjadi ruang refleksi. Para pembahas dan tamu yang hadir tidak sekadar membicarakan isi buku, tetapi juga menghidupkan kembali berbagai cerita tentang sosok Erros yang mungkin tidak seluruhnya dapat ditemukan dalam catatan sejarah formal.

Musik Menjadi Jembatan Kenangan

Jika buku menjadi medium untuk bercerita, musik menjadi medium untuk mengenang.

Rangkaian acara dibuka oleh MC Ade Andrini dan dilanjutkan penampilan Mia Ismi serta Farman Purnama.

Fryda Luciana kemudian tampil membawakan “Merpati Putih”, diiringi Adi Adrian dari KLa Project. Adi Adrian selanjutnya mengiringi Once Mekel membawakan “Selamat Jalan Kekasih”.

Setelah sesi bedah buku, suasana nostalgia kembali menguat melalui penampilan para musisi.

Balawan mengiringi Once Mekel membawakan “Pelangi”. Dira Sugandi kemudian tampil dengan “Ketika Cinta Kehilangan Kata”, disusul Sastrani melalui lagu “Semusim”.

Lagu-lagu tersebut membawa suasana kembali ke masa ketika karya musik bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.

Puncak acara berlangsung ketika seluruh artis tampil bersama membawakan “Indonesiaku”, karya Erros Djarot.

Lagu tersebut menjadi penutup yang simbolis: sebuah karya yang mempertemukan seni, rasa kebangsaan, dan perjalanan panjang sang penciptanya.

Bukan Sekadar Autobiografi

Erros Djarot telah melewati berbagai fase kehidupan. Karena itu, tiga jilid autobiografi yang kini telah hadir dapat dibaca sebagai lebih dari sekadar kisah seseorang tentang dirinya sendiri.

Di dalamnya terdapat potongan perjalanan seni, kebudayaan, persahabatan, politik, serta berbagai peristiwa yang pernah mengiringi perjalanan bangsa.

Jilid 2 dan 3 sekaligus memperluas catatan yang telah dimulai melalui Jilid 1.

Sementara buku Erros Djarot: Apa Kata Sahabat memberikan perspektif dari orang-orang yang pernah mengenalnya, autobiografi memberikan kesempatan kepada Erros untuk menyampaikan kisah dari sudut pandangnya sendiri.

Dua perspektif tersebut menjadi penting karena perjalanan seseorang tidak pernah berdiri sendiri. Ada orang-orang yang hadir, ada peristiwa yang membentuk, ada pilihan yang harus diambil, dan ada prinsip yang dipertahankan.

Meninggalkan Catatan untuk Generasi Berikutnya

Di tengah zaman yang bergerak semakin cepat, catatan personal dari para pelaku sejarah memiliki nilai tersendiri.

Tidak semua cerita perjalanan bangsa tercatat dalam dokumen resmi. Sebagian justru hidup dalam ingatan, persahabatan, karya seni, percakapan, dan pengalaman orang-orang yang berada di dalamnya.

Melalui autobiografinya, Erros Djarot memilih untuk meninggalkan jejak tersebut.

Peluncuran Jilid 2 dan 3 di Gedung Kesenian Jakarta akhirnya menjadi sebuah pertemuan lintas generasi: para sahabat lama datang membawa kenangan, para seniman menghadirkan kembali karya, sementara generasi berikutnya memperoleh kesempatan untuk membaca perjalanan seorang tokoh dari dekat.

Dan ketika musik “Indonesiaku” bergema di penghujung acara, nostalgia itu seolah menemukan maknanya sendiri.

Bahwa hidup bukan hanya tentang berapa lama seseorang berjalan, tetapi juga tentang apa yang ditinggalkan setelah perjalanan itu selesai.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Tadabbur Alam & Life Skill Education</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/tadabbur-alam--life-skill-education</link>
						                <description>MEGAMENDUNG, BOGOR - PJMINews.com -  Agustus 2026 — Yayasan Mutiara Semesta Abadi bekerja sama dengan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) menyelenggarakan kegiatan Tadabbur Alam & Life Skill Education di Pondok Ilmu Kuta Bambu, Megamendung, Bogor, pada 8–9 Agustus 2026.

Mengusung tema “Pulih, Berkarya & Bersama Menumbuhkan Harapan”, kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembelajaran, pemulihan, dan pemberdayaan bagi para penyintas skizofrenia.

Peserta tidak hanya diajak menikmati suasana alam, tetapi juga belajar membangun kemandirian, kedisiplinan, kemampuan bersosialisasi, mengelola emosi, serta memahami kembali realitas kehidupan sehari-hari.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dityaningsih Juliawati (Dita) selaku Pembina Yayasan Mutiara Semesta Abadi. Dalam sambutannya, Dita menegaskan bahwa setiap penyintas memiliki kesempatan untuk pulih, hidup bermartabat, dan kembali produktif apabila mendapatkan dukungan serta pendampingan yang tepat.

“Pemulihan bukan hanya tentang mengurangi gejala, tetapi juga mengembalikan harapan, martabat, dan kesempatan untuk berkarya,” ujarnya.

Ketua KPSI , Bagus Utomo dalam sambutannya mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap penyintas gangguan kesehatan jiwa. Menurutnya, penyintas bukanlah orang yang harus dijauhi, melainkan bagian dari masyarakat yang membutuhkan penerimaan dan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Belajar dari Alam, Berkarya melalui Taman dan Berkebun
Selama dua hari, peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi tadabbur alam, membuat taman, berkebun, olahraga, permainan kelompok, malam keakraban, shalat berjamaah, tausyiah, serta sesi berbagi pengalaman dan motivasi.

Dalam kegiatan tadabbur alam, peserta diajak menikmati ciptaan Allah, melakukan refleksi, dan berbagi rasa syukur. Sementara kegiatan membuat taman dan berkebun menjadi salah satu aktivitas yang paling berkesan.

Para peserta terlibat langsung dalam menata taman, menanam, dan merawat tanaman serta mengecat pagar pagar dan bebatuan. Mereka bekerja dalam kelompok, saling membantu, dan menyelesaikan pekerjaan bersama. Hasilnya adalah taman yang terlihat lebih rapi, asri, dan indah.

Kegiatan tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa sesuatu yang baik membutuhkan proses. Tanaman tidak langsung tumbuh besar, begitu pula proses pemulihan. Dibutuhkan kesabaran, perawatan, lingkungan yang baik, serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

Selain keterampilan dan kebersamaan, kegiatan ini juga memberikan pembelajaran penting tentang perjuangan dan realitas kehidupan.

Melalui berbagai permainan, kegiatan kelompok, hingga lomba membuat taman, peserta diajak memahami bahwa dalam kehidupan nyata selalu ada keberhasilan dan kegagalan, kelebihan dan keterbatasan, menang dan kalah, serta pengalaman yang menyenangkan maupun yang tidak sesuai dengan harapan.

Pembelajaran tersebut menjadi penting karena sebagian peserta masih menghadapi tantangan ketika berhadapan dengan situasi yang tidak sesuai dengan pemikiran atau harapan mereka. Perbedaan prestasi, pengalaman masa lalu, maupun situasi kompetitif terkadang dapat memunculkan rasa sedih, marah, kecewa, atau menjadi pemicu emosional.

Karena itu, melalui pendampingan mentor, psikolog, dan panitia, setiap situasi tersebut tidak dibiarkan berkembang menjadi hal negatif. Peserta diajak belajar menerima kenyataan, mengelola emosi, menghargai kelebihan dan keterbatasan diri maupun orang lain, serta memahami bahwa kalah bukan berarti gagal sebagai manusia dan memiliki keterbatasan bukan berarti tidak memiliki nilai.

Pesan yang ingin dibangun adalah bahwa kehidupan memang merupakan perjuangan. Setiap orang memiliki perjalanan dan kemampuan yang berbeda. Yang terpenting adalah terus berusaha, belajar, berkembang, dan menemukan cara untuk menghadapi tantangan secara sehat.

Dalam kegiatan tersebut, beberapa peserta sempat mengalami trigger emosional ketika mengingat pengalaman masa lalu, menghadapi perbedaan, persaingan atau menemukan situasi yang tidak sesuai dengan harapan mereka seperti pada saat pemberian apresiasi terhadap yang berprestasi

Hal ini justru menjadi pembelajaran penting bagi seluruh panitia bahwa proses pemulihan membutuhkan pendampingan yang konsisten dan memberikan pengertian.     Oleh  karena itu Mentor dan panitia berusaha hadir dalam setiap kegiatan, termasuk ketika peserta mengikuti permainan, berkebun, makan bersama, beribadah, maupun mengikuti kegiatan lainnya.

Dengan demikian, peserta tidak hanya mengikuti kegiatan, tetapi juga belajar bagaimana menghadapi situasi nyata dengan dukungan yang aman.

Kegiatan ini juga memberikan pengalaman hidup yang lebih teratur. Peserta mengikuti jadwal bersama, mulai dari bangun, shalat berjamaah, makan bersama, olahraga, berkebun, permainan, hingga waktu istirahat.

Rutinitas tersebut menjadi pengalaman penting karena dalam kehidupan sehari-hari sebagian peserta terbiasa menjalani aktivitas dengan lebih bebas tanpa jadwal yang terstruktur. Melalui kegiatan bersama ini, mereka belajar mengenai disiplin, tanggung jawab, kebersamaan, dan kemampuan mengikuti aturan

Ketua panitia sekaligus psikolog, Etna Maria, mengungkapkan rasa tertarik, haru, dan kekagumannya terhadap kegiatan tersebut.

Menurut Etna Maria, jika melihat kondisi penyintas sekitar 35 tahun lalu, situasinya sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Kesempatan bagi penyintas skizofrenia untuk pulih, bersosialisasi, bekerja, dan berkarya dahulu jauh lebih terbatas.

Kini, ia melihat perkembangan yang sangat menggembirakan. Para penyintas mampu mengikuti kegiatan bersama, beribadah, bekerja sama, berkebun, mengikuti permainan, berbagi pengalaman, dan menunjukkan kemampuan mereka.

Etna Maria mengaku memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap perkembangan para penyintas sehingga selama kegiatan ia berusaha mendampingi dan mengamati berbagai aktivitas peserta.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dengan pendampingan dan lingkungan yang tepat, penyintas dapat menjalani kehidupan dan berkarya sebagaimana anggota masyarakat lainnya.

Para peserta yang mengikuti kegiatan ini memiliki latar belakang yang beragam. Di antaranya ada lulusan SMP,  SMA, SMK, D3 bahkan beberapa lulusan S1 , serta peserta yang bekerja sebagai office boy, driver online, wirausaha, karyawan swasta , bekerja paruh waktu hingga pelaku usaha online

Keberagaman tersebut menjadi bukti bahwa perjalanan hidup penyintas tidak berhenti pada diagnosis atau kondisi yang pernah mereka alami. Mereka memiliki pendidikan, pengalaman kerja, keterampilan, dan kemampuan yang dapat terus dikembangkan.

Melalui kegiatan seperti ini, mereka mendapatkan ruang untuk kembali membangun kepercayaan diri dan menyadari bahwa mereka tetap memiliki kesempatan untuk berkarya dan berkontribusi.

Pada sesi penutupan, para peserta menyampaikan kesan dan pesan yang positif. Mereka merasakan kebersamaan, mendapatkan pengalaman baru, serta memperoleh kesempatan untuk belajar menghadapi diri sendiri dan lingkungan.

Sebagian peserta juga menyampaikan harapan agar kegiatan seperti ini tidak berhenti hanya sampai dua hari kegiatan, tetapi dapat dilanjutkan dengan pendampingan dan kegiatan berikutnya.

Harapan tersebut menjadi catatan penting bahwa proses pemulihan membutuhkan kesinambungan. Kegiatan dua hari dapat menjadi pemantik semangat, tetapi proses untuk membangun kemandirian, kemampuan bersosialisasi, mengelola emosi, dan kembali produktif membutuhkan pendampingan yang terus-menerus.

Menanggapi harapan para peserta, Dita menegaskan bahwa kegiatan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah upaya pembinaan yang berkelanjutan.

Yayasan Mutiara Semesta Abadi berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan bersama keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, dunia usaha, masyarakat, dan terutama mendapatkan perhatian serta dukungan dari pemerintah.

Menurut Dita, penyintas skizofrenia bukanlah beban masyarakat. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang memiliki hak, potensi, dan kesempatan untuk hidup mandiri serta produktif apabila mendapatkan pembinaan dan pendampingan yang tepat.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan sosial, tetapi menjadi awal dari perhatian dan langkah nyata yang berkelanjutan. 

Kami mengajak pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk melihat bahwa para penyintas skizofrenia adalah bagian dari masyarakat yang memiliki potensi untuk pulih, mandiri, bekerja, dan berkarya,” ujar Dita.

Ia berharap dukungan pemerintah dapat diwujudkan melalui program yang berkelanjutan, termasuk pendampingan, pemberdayaan, pelatihan keterampilan, serta ruang bagi para penyintas untuk mengembangkan potensi dan berkontribusi di masyarakat.

“Mereka tidak membutuhkan belas kasihan semata. Mereka membutuhkan kesempatan, kepercayaan, pembinaan, pendampingan, dan ruang untuk berkarya. Kami berharap pemerintah dapat hadir lebih nyata melalui kebijakan dan program yang berkelanjutan, sehingga proses pemulihan tidak berhenti ketika sebuah kegiatan selesai. Jangan biarkan mereka berjalan sendiri. 

Berikan kesempatan, hadirkan pendampingan, dan bukakan ruang untuk berkarya. Karena ketika para penyintas diberi kesempatan untuk pulih dan produktif, mereka bukan menjadi beban, tetapi menjadi bagian dari solusi bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.”

Melalui Tadabbur Alam & Life Skill Education, Yayasan Mutiara Semesta Abadi 
bersama KPSI berharap semakin banyak pihak memahami bahwa pemulihan bukan hanya tentang kembali sehat, tetapi juga tentang kembali memiliki harapan, kepercayaan diri, kesempatan untuk berkarya, dan tempat yang layak di tengah masyarakat.

“Pulih, Berkarya & Bersama Menumbuhkan Harapan” bukanh sekadar tema, tetapi sebuah ajakan untuk bergerak Bersama agar tidak ada penyintas yang berjalan sendirian dalam proses pemulihannya. - (ws/pjminews)
</description>
					                </item><item>
						                <title>Tingkatkan Kesadaran Literasi Generasi Muda</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/tingkatkan-kesadaran-literasi-generasi-muda</link>
						                <description>BEKASI - PJMINews.com - Institut Attaqwa KH. Noer Alie (IAN) Bekasi bekerja sama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Bekasi menyelenggarakan Kelas Inspirasi Politik bertema “Menyiapkan Generasi Emas Demokrasi” di Aula Gedung A Lantai 2 Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi. Rabu 12 Agustus 2026.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran Kesbangpol Kabupaten Bekasi Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, DPRD Kabupaten Bekasi, KPU Kabupaten Bekasi, Rektor dan jajaran pimpinan institut, dosen, mahasiswa dan siswa tingkat SMA Sederajat.

Ketua Panitia Kelas Inspirasi Politik Abdul Madjid, S.Ag.,MM dalam sambutannya mengatakan tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan literasi politik dan digital kepada mahasiswa untuk mampu menyaring informasi dan menangkal hoax. 

“Kegiatan ini juga mendorong generasi muda agar memiliki integritas dan siap berkontribusi dan menguatkan nilai-nilai demokrasi, serta membuka ruang partisipasi masyarakat dalam mewujudkan demokrasi yang sehat dan damai” ungkapnya.

Kelas Inspirasi Politik, lanjut Abdul Madjid  menjadi ruang edukasi dan dialog bagi mahasiswa untuk memperluas pemahaman tentang politik, demokrasi, serta peran generasi muda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  “Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu berpartisipasi secara aktif, kritis, dan konstruktif dalam mengawal demokrasi Indonesia” Ungkapnya.

Dalam sambutannya, Rektor Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi, Dr. H. Saiful Bahri Maih, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas dipilihnya IAN Bekasi sebagai mitra kegiatan. Ia berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan politik mahasiswa sehingga mampu mengambil peran positif di tengah masyarakat.

“Kelas inspirasi politik sebagai ajang sosialisasi kepada generasi muda agar kedepan memahami dinamika politik secara cerdas, apalagi jelang pemilu mahasiswa akan menjadi pemilih yang cerdas, Kami berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Bekasi, Robert Suwandi, M.M., M.H., menekankan pentingnya literasi politik bagi generasi muda agar mampu memahami persoalan kebangsaan secara kritis dan bertanggung jawab.

“Mahasiswa sebagai generasi muda calon pemimpin masa depan agar mampu menyelami dan memahami dinamika kebangsaan secara objektif dan kritis serta mengedepankan rasa tanggungjawab dan jadikan kelas inspirasi politik ini meluaskan wawasan mahasiswa.” katanya.

Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri, Andi Aswin Manggabarani, S.STP., M.Tr.IP. dari Kemendagri, H. Ade Sukron, S.H.I., M.Si. selaku Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, dan Ali Rido, S.Pd., M.IP. selaku Ketua KPU Kabupaten Bekasii. Ketiganya membahas peran mahasiswa dan pemuda dalam mengawal demokrasi serta mempersiapkan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Andi Aswin dalam pemaparannya mengatakan Indonesia sedang menikmati bonus demograsi, ketika jumlah usia produktif melampaui jumlah usia non produktif, peluang ini akan bermakna jika generasi muda disiapkan dari sisi pendidikan, keterampilan dan karakter.

“Lima kecakapan yang harus ditanamkan generasi muda saat ini adalah berfikir kritis, kreatif, inovatif serta adaptif, memiliki kemampuan komunikasi, kesadaran kolaborasi serta pembentukan karakter yang kuat” jelasnya.  

Sementara  Ade Syukron ketua DPRD Kabupaten Bekasi menyampaikan materi berjudul “Membangun Generasi Unggul, Berkarakter, dan Berdaya Saing untuk Bekasi Masa Depan”, menurutnya saat ini kabupaten Bekasi mempunyai potensi besar, terutama dari generasi mudanya.

“Generasi muda bukan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan tetapi harus aktif menjadi pelaku utama pembangunan kabupaten Bekasi di masa depan, maka investasi terbaik dearah adalah investasi pada sumber daya manusia” ungkapnya. 

Diakhir sesi kegiatan ketua Divisi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Institut Attaqwa KH Noer Alie Bekasi, Ikhwan Baihaqi mengajak para peserta yang sebagian besar siswa SMP dan SMA/SMK untuk melanjutkan kuliah di IAN Bekasi.

“IAN Bekasi menyediakan enam prodi diantaraanya ; Prodi PAI, KPI, MBS, MD, Keuangan Syariah, PGMI, dan Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI), bagi anak-anak yang beminat melanjutkan dan membangun mimpi kuliah, silahkan bergabung di IAN,” ungkapnya. 

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penandatanganan MoU sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat kerja sama di bidang pendidikan politik, wawasan kebangsaan, dan peningkatan partisipasi generasi muda dalam kehidupan demokrasi.

Melalui kegiatan ini, Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi berharap lahir generasi muda yang cerdas secara politik, kritis, berkarakter, dan bertanggung jawab dalam membangun demokrasi menuju Indonesia Emas 2045. - (ws/pjminews)
</description>
					                </item><item>
						                <title>Perluas Akses Keadilan Masyarakat Harakah BAKOMUBIN & FH Hukum UHAMKA Bekali Mubalig Jadi Paralegal</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/perluas-akses-keadilan-masyarakat-harakah-bakomubin--fh-hukum-uhamka-bekali-mubalig-jadi-paralegal</link>
						                <description>JAKARTA - PJMINews— Peran mubalig di tengah masyarakat dinilai tidak cukup hanya sebagai penyampai pesan keagamaan. Dengan kedekatan dan kepercayaan yang dimiliki masyarakat, mubalig juga dinilai memiliki posisi strategis dalam meningkatkan kesadaran hukum, membantu mencegah konflik, serta menjadi penghubung masyarakat dengan advokat maupun lembaga bantuan hukum.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Advokasi dan Paralegal Berbasis Masyarakat yang diselenggarakan Harakah Badan Koordinasi Mubalig se-Indonesia (BAKOMUBIN) DKI Jakarta bersama Lembaga Konsultasi dan Layanan Hukum (LKLH) Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) pada 8–9 Agustus 2026 di Fakultas Hukum UHAMKA, Jakarta Timur.

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Mubalig sebagai Benteng Utama Masyarakat untuk Menegakkan Keadilan yang Beradab.” Sebanyak 80 peserta mengikuti pelatihan, yang berasal dari mubalig dan dai anggota Harakah BAKOMUBIN DKI Jakarta, organisasi keagamaan, serta pengurus masjid dan majelis taklim.

Ketua Panitia Pelatihan Advokasi dan Paralegal, Dr. Sarji, mengatakan kegiatan tersebut tidak dirancang sekadar sebagai pelatihan selama dua hari, tetapi diarahkan untuk membangun jejaring pendampingan masyarakat yang berkelanjutan.

“Yang kita harapkan bukan sekadar peserta memperoleh sertifikat atau pengetahuan baru. Setelah pelatihan harus ada tindak lanjut. Kita ingin membangun jaringan Mubalig Paralegal yang dapat menjadi bagian dari sistem pemberdayaan masyarakat berbasis masjid,” ujar Sarji.

Menurut Sarji, persoalan hukum yang muncul di tengah masyarakat sangat beragam, mulai dari persoalan keluarga, waris, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pertanahan, utang-piutang hingga konflik sosial.

Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang memiliki keterbatasan pemahaman mengenai hak-hak hukum maupun mekanisme penyelesaian persoalan yang mereka hadapi.

“Karena itu, masyarakat membutuhkan figur yang dekat dan dipercaya. Mubalig memiliki posisi tersebut. Dengan tambahan kapasitas advokasi dan keparalegalan, mereka diharapkan mampu membantu masyarakat mengenali persoalan, mencegah konflik semakin besar, serta melakukan rujukan ketika diperlukan,” kata Sarji.

Ketua DPW Harakah BAKOMUBIN DKI Jakarta, Dr. Nur Raihan, SH.I., MH., MA, mengatakan mubalig memiliki kedekatan dan tingkat kepercayaan yang kuat dari masyarakat sehingga memiliki modal sosial yang besar untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi umat.

“Masyarakat sering kali datang terlebih dahulu kepada mubalig ketika menghadapi persoalan keluarga, sosial maupun hukum. Karena itu, mubalig perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar hukum agar dapat memberikan pendampingan awal yang tepat dan mengarahkan masyarakat kepada mekanisme penyelesaian yang sesuai,” ujar Nur Raihan.

Menurutnya, dakwah memiliki dimensi yang luas, termasuk mendorong keadilan dan memberikan perlindungan kepada kelompok masyarakat yang lemah atau mustadh&#39;afin.

Karena itu, penguatan kapasitas mubalig dalam bidang advokasi dan keparalegalan dinilai menjadi bagian dari upaya menghadirkan dakwah yang memberikan kemaslahatan secara nyata di tengah masyarakat.

“Mubalig dapat berperan sebagai edukator hukum, mediator sosial, penghubung masyarakat dengan advokat atau lembaga bantuan hukum, serta membantu memberikan akses informasi kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum UHAMKA, Bisman Bhaktiar, menegaskan bahwa pelatihan tersebut dimaksudkan untuk membekali mubalig dengan pengetahuan hukum dasar dan kemampuan advokasi agar dapat menjadi fasilitator awal dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan hukum.

“Peran mubalig sebagai paralegal sangat strategis. Yang kita bangun adalah kemampuan mubalig untuk menjadi pendamping awal masyarakat, edukator hukum, fasilitator penyelesaian nonlitigasi, serta penghubung masyarakat dengan advokat atau lembaga bantuan hukum,” kata Bisman.

Menurut Bisman, keberadaan jaringan Mubalig Paralegal diharapkan dapat memperkuat akses terhadap keadilan (access to justice), terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan pengetahuan maupun kemampuan ekonomi untuk mendapatkan bantuan hukum profesional.

“Tujuan akhirnya bukan mengambil alih persoalan masyarakat, tetapi memberdayakan masyarakat agar memahami haknya, mengetahui pilihan penyelesaian, dan dapat mengambil keputusan secara sadar,” ujarnya.

Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya Harakah BAKOMUBIN DKI Jakarta dan Fakultas Hukum UHAMKA untuk memperluas literasi hukum berbasis masyarakat. Ke depan, jaringan Mubalig Paralegal diharapkan dapat berkembang sebagai mitra masyarakat dalam memberikan edukasi hukum, melakukan pencegahan konflik, serta menghubungkan masyarakat dengan pihak yang memiliki kewenangan dan kompetensi hukum.

Dengan pendekatan tersebut, masjid dan komunitas keagamaan tidak hanya menjadi pusat aktivitas ibadah, tetapi juga dapat berkembang sebagai ruang pemberdayaan masyarakat, termasuk dalam meningkatkan kesadaran hukum dan memperluas akses terhadap keadilan. - (mn/pp)
</description>
					                </item><item>
						                <title>Transformasi Pertahanan Nasional Dorong Kebutuhan Figur dengan Kompetensi Lintas Sektor</title>
						                <link>https://pjminews.com/berita/detail/transformasi-pertahanan-nasional-dorong-kebutuhan-figur-dengan-kompetensi-lintas-sektor</link>
						                <description>Jakarta — Perubahan lanskap keamanan global menuntut Indonesia memperkuat pendekatan pertahanan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan militer konvensional, tetapi juga mencakup teknologi, industri, ekonomi, diplomasi, dan inovasi.

Kebutuhan tersebut menjadi relevan di tengah wacana perubahan susunan Kabinet Merah Putih, termasuk kemungkinan pergantian Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan). Sejumlah nama mulai dikaitkan dengan posisi tersebut, salah satunya profesional industri pertahanan Norman Joesoef.

Norman merupakan CEO Republikorp yang telah lama berkecimpung dalam sektor industri pertahanan dan teknologi strategis. Pengalamannya di sektor tersebut membuat namanya dipandang memiliki keterkaitan dengan agenda penguatan industri pertahanan nasional.

Meski demikian, berbagai nama yang beredar terkait posisi Wamenhan belum dapat dipastikan sampai adanya keputusan resmi Presiden. Penetapan wakil menteri merupakan bagian dari kewenangan Presiden dalam menyusun struktur pemerintahan sesuai dengan kebutuhan kabinet.

Peneliti pertahanan dan intelijen Wawan H Purwanto berpandangan bahwa tantangan pertahanan saat ini membutuhkan figur yang mampu memahami persoalan secara lebih luas.

“Pertahanan nasional sekarang tidak bisa dilihat hanya dari aspek militer. Ada teknologi, industri, ekonomi, diplomasi, informasi, hingga perkembangan geopolitik yang semuanya saling berkaitan,” ujar Wawan di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Menurutnya, karakter ancaman yang berkembang menjadi semakin kompleks membuat pemerintah membutuhkan kombinasi kompetensi dalam mengelola sektor pertahanan.

Pendekatan Multidisiplin Semakin Dibutuhkan

Wawan menjelaskan bahwa perang hibrida dan asimetris telah memperluas bentuk persaingan antarnegara. Konflik tidak selalu berlangsung melalui konfrontasi bersenjata, tetapi dapat muncul melalui serangan siber, manipulasi informasi, tekanan ekonomi, gangguan rantai pasok, hingga pemanfaatan teknologi strategis.

Situasi tersebut membuat pengelolaan pertahanan membutuhkan perspektif lintas sektor.

“Ancaman hibrida menuntut kemampuan membaca persoalan dari berbagai sisi. Pemahaman militer tetap fundamental, tetapi harus diperkuat dengan penguasaan teknologi, ekonomi pertahanan, industri, serta kemampuan membaca dinamika internasional,” katanya.

Dalam kerangka itu, menurut Wawan, kehadiran figur dari kalangan sipil-profesional tidak perlu dipertentangkan dengan peran militer.

Keduanya justru dapat ditempatkan sebagai bagian dari satu ekosistem pertahanan yang saling melengkapi. Pengalaman militer dibutuhkan untuk memahami aspek operasional dan strategis pertahanan, sementara profesional dari sektor teknologi dan industri dapat memberikan perspektif terkait inovasi, produksi, investasi, serta perkembangan teknologi pertahanan.

Penguatan Industri Pertahanan Menjadi Agenda Strategis

Wawan menilai pembangunan industri pertahanan nasional merupakan salah satu elemen penting dalam mewujudkan kemandirian pertahanan.

Indonesia, kata dia, tidak cukup hanya meningkatkan kemampuan pengadaan alutsista. Negara juga perlu membangun ekosistem industri yang mampu menghasilkan teknologi, memperkuat riset, mencetak sumber daya manusia, dan memastikan keberlanjutan rantai pasok.

“Industri pertahanan harus dipandang sebagai bagian dari strategi pertahanan negara. Yang dibangun bukan hanya produknya, tetapi juga teknologi, SDM, riset, manufaktur, dan ekosistem industrinya,” ujarnya.

Karena itu, pengalaman seseorang di sektor industri pertahanan dapat menjadi modal strategis. Namun, pengalaman tersebut harus dibarengi pemahaman mengenai kepentingan nasional serta mekanisme pengambilan kebijakan di pemerintahan.

Kapasitas Lebih Penting daripada Usia

Mengenai peluang figur muda untuk menempati posisi strategis di bidang pertahanan, Wawan menilai usia tidak seharusnya menjadi parameter utama.

Menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat justru membuat regenerasi menjadi kebutuhan. Generasi muda dinilai memiliki peluang untuk membawa pendekatan baru dalam memahami teknologi, inovasi, serta perubahan industri pertahanan global.

“Yang harus menjadi ukuran adalah kompetensi, integritas, rekam jejak, dan kemampuan strategis. Usia bukan persoalan sepanjang kapasitas yang dimiliki memang memadai,” tutur Wawan.

Ia menambahkan, posisi Wamenhan membutuhkan kemampuan berpikir holistik. Seorang pejabat di posisi tersebut harus mampu memahami keterkaitan antara aspek pertahanan dengan politik, ekonomi, sosial, teknologi, serta hukum internasional.

Dengan perspektif tersebut, figur profesional seperti Norman Joesoef dinilai dapat menjadi salah satu contoh bahwa sektor pertahanan membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin keahlian. Namun, kelayakan setiap figur tetap harus dilihat berdasarkan rekam jejak dan kapasitasnya secara menyeluruh.

Menunggu Keputusan Presiden

Wacana pergantian Wamenhan pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan pergantian pejabat, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk melihat kembali kebutuhan pertahanan Indonesia dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis.

Kombinasi antara kekuatan militer, industri pertahanan, teknologi, riset, diplomasi, dan sumber daya manusia menjadi semakin penting dalam membangun sistem pertahanan yang adaptif.

Apabila pemerintah nantinya memilih figur sipil-profesional untuk menduduki posisi Wamenhan, tantangan yang dihadapi bukan sekadar menjalankan fungsi administratif, melainkan memastikan pengalaman dan kompetensi yang dimiliki dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang memperkuat kepentingan strategis nasional.

Sementara itu, seluruh keputusan mengenai komposisi kabinet dan jajaran wakil menteri tetap menjadi kewenangan Presiden Prabowo Subianto. Publik masih menunggu apakah wacana tersebut akan berujung pada perubahan konkret dalam struktur Kementerian Pertahanan.
</description>
					                </item></channel>
  	</rss>